DUNIA MALAM BERSAMA HIV/AIDS
KARYA: La
ode Muh. Syarif Sidi
Rembulan malam disertai kilauan
seribu bintang menghangatkan kota malam yang di penuhi sanak saudara yang
sedang bercinta, tiupan angin sepoi-sepoi menggoyangkan tumbuhan hijau
berukuran besar yang terbalut kedipan lampu warna-warni seakan mengundang
diriku dan kawan-kawanku agar menghampirinya. Batin kami pun terpanggil oleh
pohon yang sedang menari itu, aku dan keempat kawanku melangkahkan kaki dengan
melintasi lautan taman bunga
Setibanya,
kami dikejutkan oleh sepasang sosok yang sedang berpelukkan. Awalnya tampak
seperti pohon kecil yang terletak di bawah pohon cantik itu, mungkin mata ini
disamarkan oleh gelapnya malam dan keindahann lampu pohon tersebut, hingga
pohon kecil itu tersulap menjadi sepasang kekasih yang sedang bercumbu, panik
dan tawa tak tertahan lagi. Hadi, Lusy dan Intan segera menutup matanya dan berpaling
menjauhi tanaman cantik itu, sedangkan aku dan agung terdiam terpaku melihat
kejadian itu. Rasa ingin tahu pun hadir diantara kami” siapakah kalian yang ada
di sana” sepasang kekasih itu bangkit lalu berjalan menjauhi tanpa menghiraukan
kami. Terlihat sepintas wajah wanita pasangan itu,”WAH!!! Ternyata itu Indah”
aku bertanya pada sahabatku”Agung, apakah betul sosok wanita itu adalah indah”
kawanku menoleh padaku”sepertinya begitu, astaga orang sepolos itu ternyata
begini” sambil menggelengkan kepala.
Indah
adalah orang yang pendiam dan sholeha dan sering di iringi oleh puja puji dari
orang terdekatnya, begitu pula dengan guru-guru di sekolah kami. Kesehariannya
selalu membungkusi mahkotanya dengan kain berwarna abu-abu yang melilit di
kepalanya. Apa daya, walau tak percaya tapi begitu lah kenyataannya, sulit di
percaya oleh logika.
Kami berlima berkumpul lagi di
sebuah tempat pedagang eceran yang menyuguhkan sepiring kue-kue pribumi. Kami
langsung menyantap kue khas Indonesia itu, saat sedang asik menikmati kue
tradisional, Aku dan Agung menceritakan hal yang kurang logis itu kepada kawan
lainnya”Andaikan kalian tak beranjak tadi, mungkin kalian akan terkesima
melihat sosok wanita di pasangan kekasih tadi” dengan spontanitas Lusy bertanya”memang
siapa orang itu!, cabe-cabean?” Lusy membuat suasana menjadi tawa, sambil
menahan ketawaku aku pun menjawab” ih kamu kepo, tidaklah masa cabe-cabean! Hahaha, kalian tau ngga wanita
tadi tuh Indah teman sekelas kita” riangnya tawa tiba berganti hening semua
terpaku membisu tak menyangkanya. Hadi tak percaya” mungkin kalian salah lihat,
mana mungkin Indah, ngga masuk akal” Agung membantahnya” percaya atau tidak ,
tadi itu memang Indah, kami lihat langsung loh!” Intan bertindak sebagai
penengah”sudahlah untuk apa hal ini diperdebatkan, nggak baik berprasangka
buruk pada teman, mang kalian ada bukti siapa tau cuman mirip aja” Agung
termenung” ia juga yah”.
Jam
telah merujuk pada pukul 22.00 wita, kelima kawan ini mulai menikmati indahnya
malam kehal yang berbau positif yakni dengan bercerita tentang masa indah
mereka .sambil menikmati ikan bakar yang di tankap ketika sepulang sekolah.
Hangatnya bara api semakin mempertajam suasana, lalu kuambil gitar dan
memainkan nada-nada melody, membuat kawanku
terpanah oleh gesitnya jemariku memetik senar-senar gitar, serta ditambah
merdunya suara intan ketika menyanyikan sebuah lagu indah yaitu Peterpan-Semua Tentang Kita. Rasa
bahagia terpancar di raut wajah kami,sehingga Intan meneteskan air matanya, karena
bahagia melihat kawannya yang amat senang oleh suara dirinya. Agung “kenapa
kamu nangis, mang kita salah apa?”Intan,
sambil menatap semua kawannya” aku
menangis karena bahagia, melihat saudara-saudaraku bahagia karenaku,
terima kasih sahabatku”. Bahagia tercampur haru membuat kelima sahabat saling
berpelukkan.
Hari
semakin tak terlihat, semakin banyak pula remaja berdatangan. Tiba-tiba suara
bising mendarat di telinga kami, yang terpancar di jalan raya depan taman kota.
Ternyata bisingan tersebut muncul dari motor-motor jalanan yang sedang beradu
kecepatan. Lentingan keras selalu terdengar dari kandalpot semua motor itu.
Rasa penasaran menghampiri kami, hingga raga terpanggil untuk menyaksikan
balapan liar tersebut. Aku bertanya oleh seorang penonton yang ada di
sampingku”mas, ini memangnya kejuaraan? Adakah hadiah bagi pemenangnya” lalu
pria berbadan besar itu menjawab” ia ini kejuaraan mingguan dan siapa yang
berhasil memenangkan kejuaraan ini akan mendapatkan gadis yang ada disana”
sambil menujuk wanita berkostum hitam serta menggunakan rok mini berwarna
merah. Setelah ku perhatikan dengan seksama, ternyata wanita yang di tunjuk
oleh orang tersebut adalah Intan. Perasaanku bercampur padu dengan rasa tak
percaya dan heran seribu heran. Aku lalu menarik salah satu sahabatku hingga
kelima sahabat menoleh padaku”ternyata ini adalah kejuaraan mingguan dan yang
berhasil memenangkannya mendapatkan wanita itu” sambil menunjuk wanita berbaju
hitam dan memakai rok mini berwarna merah” Agung bertanya” memangnya siapa
wanita itu?” aku lalu menunjuk wanita tersebut” coba perhatikan, itu Indahkan”
keempat sahabatku tak percaya”ah masa dia, tapi kelihatannya memang dia sih!”semua
tak percaya bahwa itu indah , tapi itu memang dia. Hal ini semakin memperkuat
fakta yang di hanturkan olehku dan salah satu sahabat “agung” bahwa yang berada
di bawah pohon cantik tersebut adalah indah dan kekasihnya.
Gemerlap
malam semakin menjadi, pemenang balapan sudah keluar, dengan rasa bahagia ia
langsung membonceng Indah menggunakan motor balapnya, senang terbalut gembira
terpancar dari wajah pemenang adu
kecepatan itu. Khawatir dan takut merasuki jiwa kami, entah apa yang ada di
benak Indah, tapi dia sudah melakukan hal yang sangat fatal. Tak tahu apa yang harus kami perbuat, semua bersedih
melihat saudara sekelasnya seperti ini,”oh Indah, mengapa engkau teg menyiksa
dirimu dengan hal konyol seperti ini, kami masih sayang padamu, haruskah engkau
melakukan hal itu”.
Ramainya
malam perlahan sirna menjadi hampa, yang tinggal menyisahkan bekas-bekas, dunia
menjadi terasa hampa tinggal menyisahkan nyanyian angin sepoi-sepoi yang
menabrak sukma kami. Rasa kantuk terpancar diantara kami, akhirnya kami lekas
pulang dengan menggunakan tiga unit sepeda motor, Agung membonceng intan karena
mereka satu arah ,hadi pulang sendirian dan aku pulang bersama lusy,selain satu
arah kami juga tetangga .
Tibalah
aku dirumah, tanpa berpikir lama raga ini terbaring terlentang di atas tempat
tidur kamarku, begitu pun keempat sahabatku semua pulas di atas matras milik
mereka masing-masing.
Tak
terasa malam telah menjadi mentari, bangun lah kami dari tidur pulas yang
menenggelamkan jiwa kami, aku segera bergrak dengan cepat lalu berangkat
kesekolah. Di temani dinginnya embun pagi, nyanyian merdu burung-burung serta
suara lengkingan ayam yang memanggil kawan-kawannya pula. Tak terasa aku sudah
menginjakkan kami di tempat kami menuntut ilmu, sahabat berlima ini di
pertemukan lagi di sebuah kelas XI MIA 2. Canda dan tawa menghantui jiwa kami
ketika mengingat hal lucu dan seru semalam.
Pelajar
pertama sudah di mulai, tiba-tiba muncul seorang guru BK memasuki ruang kelas
kami dan menyuguhkan sebuah surat putih pada ketua kelas kami, tadinya canda
dan tawa ada di pihak kami berganti menjadi sedih saat melihat surat tersebut
bahwa Indah telah sakit dan di rawat di rumah sakit. Seharian kami teringat
kejadian semalam,”mungkin kah sebab semalamlah kini Indah terbaring lemah di
rumah sakit. Terkadang penyesalan terlintas di benakku “ kenapa semalam aku tak
mencoba menyadarkan Indah”.
Lekas
pulang sekolah lami segera menjenguk teman kami, sayang seribu sayang ternyata
Indah divonis dokter mengidap penyakit HIV/AIDS lebih malangnya lagi dia sedang
mengandung anak orang tak di kenal, sungguh malam nasib wanita cantik itu. Semakin
hari jiwanya semakin melemah hingga seminggu setelah sakit Indah sang wanita
baik itu meninggal dunia. Tangisan hadir di antara teman-teman dankeluarga
indah. Orang tua yang berada di kampung histeris saat mendengar kabar buah
hatinya telah meninggal dunia, mereka langsung bergegas untuk dating melihat
anaknya yang terakhir kalinya. Setelah tiba, ibunda Intan langsung jatuh
tersungkur pingsan dan ayah tak bisa menahan kesedihannya...tunggu
selamjutnya

No comments:
Post a Comment