Sunday, March 20, 2016

DUNIA MALAM BERSAMA HIV/AIDS




 DUNIA MALAM BERSAMA HIV/AIDS
KARYA: La ode Muh. Syarif Sidi
                Rembulan malam disertai kilauan seribu bintang menghangatkan kota malam yang di penuhi sanak saudara yang sedang bercinta, tiupan angin sepoi-sepoi menggoyangkan tumbuhan hijau berukuran besar yang terbalut kedipan lampu warna-warni seakan mengundang diriku dan kawan-kawanku agar menghampirinya. Batin kami pun terpanggil oleh pohon yang sedang menari itu, aku dan keempat kawanku melangkahkan kaki dengan melintasi lautan taman bunga
            Setibanya, kami dikejutkan oleh sepasang sosok yang sedang berpelukkan. Awalnya tampak seperti pohon kecil yang terletak di bawah pohon cantik itu, mungkin mata ini disamarkan oleh gelapnya malam dan keindahann lampu pohon tersebut, hingga pohon kecil itu tersulap menjadi sepasang kekasih yang sedang bercumbu, panik dan tawa tak tertahan lagi. Hadi, Lusy dan Intan segera menutup matanya dan berpaling menjauhi tanaman cantik itu, sedangkan aku dan agung terdiam terpaku melihat kejadian itu. Rasa ingin tahu pun hadir diantara kami” siapakah kalian yang ada di sana” sepasang kekasih itu bangkit lalu berjalan menjauhi tanpa menghiraukan kami. Terlihat sepintas wajah wanita pasangan itu,”WAH!!! Ternyata itu Indah” aku bertanya pada sahabatku”Agung, apakah betul sosok wanita itu adalah indah” kawanku menoleh padaku”sepertinya begitu, astaga orang sepolos itu ternyata begini” sambil menggelengkan kepala.
            Indah adalah orang yang pendiam dan sholeha dan sering di iringi oleh puja puji dari orang terdekatnya, begitu pula dengan guru-guru di sekolah kami. Kesehariannya selalu membungkusi mahkotanya dengan kain berwarna abu-abu yang melilit di kepalanya. Apa daya, walau tak percaya tapi begitu lah kenyataannya, sulit di percaya oleh logika.
              Kami berlima berkumpul lagi di sebuah tempat pedagang eceran yang menyuguhkan sepiring kue-kue pribumi. Kami langsung menyantap kue khas Indonesia itu, saat sedang asik menikmati kue tradisional, Aku dan Agung menceritakan hal yang kurang logis itu kepada kawan lainnya”Andaikan kalian tak beranjak tadi, mungkin kalian akan terkesima melihat sosok wanita di pasangan kekasih tadi” dengan spontanitas Lusy bertanya”memang siapa orang itu!, cabe-cabean?” Lusy membuat suasana menjadi tawa, sambil menahan ketawaku aku pun menjawab” ih kamu kepo, tidaklah masa  cabe-cabean! Hahaha, kalian tau ngga wanita tadi tuh Indah teman sekelas kita” riangnya tawa tiba berganti hening semua terpaku membisu tak menyangkanya. Hadi tak percaya” mungkin kalian salah lihat, mana mungkin Indah, ngga masuk akal” Agung membantahnya” percaya atau tidak , tadi itu memang Indah, kami lihat langsung loh!” Intan bertindak sebagai penengah”sudahlah untuk apa hal ini diperdebatkan, nggak baik berprasangka buruk pada teman, mang kalian ada bukti siapa tau cuman mirip aja” Agung termenung” ia juga yah”.  
            Jam telah merujuk pada pukul 22.00 wita, kelima kawan ini mulai menikmati indahnya malam kehal yang berbau positif yakni dengan bercerita tentang masa indah mereka .sambil menikmati ikan bakar yang di tankap ketika sepulang sekolah. Hangatnya bara api semakin mempertajam suasana, lalu kuambil gitar dan memainkan nada-nada melody,  membuat kawanku terpanah oleh gesitnya jemariku memetik senar-senar gitar, serta ditambah merdunya suara intan ketika menyanyikan sebuah lagu  indah yaitu Peterpan-Semua Tentang Kita. Rasa bahagia terpancar di raut wajah kami,sehingga Intan meneteskan air matanya, karena bahagia melihat kawannya yang amat senang oleh suara dirinya. Agung “kenapa kamu nangis, mang kita salah apa?”Intan,  sambil menatap semua kawannya” aku  menangis karena bahagia, melihat saudara-saudaraku bahagia karenaku, terima kasih sahabatku”. Bahagia tercampur haru membuat kelima sahabat saling berpelukkan.
            Hari semakin tak terlihat, semakin banyak pula remaja berdatangan. Tiba-tiba suara bising mendarat di telinga kami, yang terpancar di jalan raya depan taman kota. Ternyata bisingan tersebut muncul dari motor-motor jalanan yang sedang beradu kecepatan. Lentingan keras selalu terdengar dari kandalpot semua motor itu. Rasa penasaran menghampiri kami, hingga raga terpanggil untuk menyaksikan balapan liar tersebut. Aku bertanya oleh seorang penonton yang ada di sampingku”mas, ini memangnya kejuaraan? Adakah hadiah bagi pemenangnya” lalu pria berbadan besar itu menjawab” ia ini kejuaraan mingguan dan siapa yang berhasil memenangkan kejuaraan ini akan mendapatkan gadis yang ada disana” sambil menujuk wanita berkostum hitam serta menggunakan rok mini berwarna merah. Setelah ku perhatikan dengan seksama, ternyata wanita yang di tunjuk oleh orang tersebut adalah Intan. Perasaanku bercampur padu dengan rasa tak percaya dan heran seribu heran. Aku lalu menarik salah satu sahabatku hingga kelima sahabat menoleh padaku”ternyata ini adalah kejuaraan mingguan dan yang berhasil memenangkannya mendapatkan wanita itu” sambil menunjuk wanita berbaju hitam dan memakai rok mini berwarna merah” Agung bertanya” memangnya siapa wanita itu?” aku lalu menunjuk wanita tersebut” coba perhatikan, itu Indahkan” keempat sahabatku tak percaya”ah masa dia, tapi kelihatannya memang dia sih!”semua tak percaya bahwa itu indah , tapi itu memang dia. Hal ini semakin memperkuat fakta yang di hanturkan olehku dan salah satu sahabat “agung” bahwa yang berada di bawah pohon cantik tersebut adalah indah dan kekasihnya.
            Gemerlap malam semakin menjadi, pemenang balapan sudah keluar, dengan rasa bahagia ia langsung membonceng Indah menggunakan motor balapnya, senang terbalut gembira terpancar  dari wajah pemenang adu kecepatan itu. Khawatir dan takut merasuki jiwa kami, entah apa yang ada di benak Indah, tapi dia sudah melakukan hal yang sangat fatal.  Tak tahu apa yang harus kami perbuat, semua bersedih melihat saudara sekelasnya seperti ini,”oh Indah, mengapa engkau teg menyiksa dirimu dengan hal konyol seperti ini, kami masih sayang padamu, haruskah engkau melakukan hal itu”.
            Ramainya malam perlahan sirna menjadi hampa, yang tinggal menyisahkan bekas-bekas, dunia menjadi terasa hampa tinggal menyisahkan nyanyian angin sepoi-sepoi yang menabrak sukma kami. Rasa kantuk terpancar diantara kami, akhirnya kami lekas pulang dengan menggunakan tiga unit sepeda motor, Agung membonceng intan karena mereka satu arah ,hadi pulang sendirian dan aku pulang bersama lusy,selain satu arah kami juga tetangga .
            Tibalah aku dirumah, tanpa berpikir lama raga ini terbaring terlentang di atas tempat tidur kamarku, begitu pun keempat sahabatku semua pulas di atas matras milik mereka masing-masing.                      
            Tak terasa malam telah menjadi mentari, bangun lah kami dari tidur pulas yang menenggelamkan jiwa kami, aku segera bergrak dengan cepat lalu berangkat kesekolah. Di temani dinginnya embun pagi, nyanyian merdu burung-burung serta suara lengkingan ayam yang memanggil kawan-kawannya pula. Tak terasa aku sudah menginjakkan kami di tempat kami menuntut ilmu, sahabat berlima ini di pertemukan lagi di sebuah kelas XI MIA 2. Canda dan tawa menghantui jiwa kami ketika mengingat hal lucu dan seru semalam.
            Pelajar pertama sudah di mulai, tiba-tiba muncul seorang guru BK memasuki ruang kelas kami dan menyuguhkan sebuah surat putih pada ketua kelas kami, tadinya canda dan tawa ada di pihak kami berganti menjadi sedih saat melihat surat tersebut bahwa Indah telah sakit dan di rawat di rumah sakit. Seharian kami teringat kejadian semalam,”mungkin kah sebab semalamlah kini Indah terbaring lemah di rumah sakit. Terkadang penyesalan terlintas di benakku “ kenapa semalam aku tak mencoba menyadarkan Indah”.
            Lekas pulang sekolah lami segera menjenguk teman kami, sayang seribu sayang ternyata Indah divonis dokter mengidap penyakit HIV/AIDS lebih malangnya lagi dia sedang mengandung anak orang tak di kenal, sungguh malam nasib wanita cantik itu. Semakin hari jiwanya semakin melemah hingga seminggu setelah sakit Indah sang wanita baik itu meninggal dunia. Tangisan hadir di antara teman-teman dankeluarga indah. Orang tua yang berada di kampung histeris saat mendengar kabar buah hatinya telah meninggal dunia, mereka langsung bergegas untuk dating melihat anaknya yang terakhir kalinya. Setelah tiba, ibunda Intan langsung jatuh tersungkur pingsan dan ayah tak bisa menahan kesedihannya...tunggu selamjutnya






                                                              

No comments: